Aku Ketagihan Dientot Oleh Om Ku Yang Bertubuh Kekar

Sebelum aku menceritakan kisahku ini, perkenalkan dulu namaku Desi. menurut teman-teman aku mempunyai - pdf free download
Uploaded by Dona Febriana

381 downloads 4K Views 207KB Size

Recommend Documents


Permata Yang Hilang Oleh Ibnu Yusof
Marriage - pdf free download

100 Tahun Setelah Aku Mati.docx
100 Tahun Setelah Aku Mati.docx - pdf free download

BAB III UPAYA HUKUM DEBITOR PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG YANG DIAJUKAN OLEH KREDITOR
1 BAB III UPAYA HUKUM DEBITOR PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG YANG DIAJUKAN OLEH KREDITOR 3.1. Upaya - pdf free download

Ikankecillblogdrivecom Bukan Rahasia, Bila Aku
1 Ikankecillblogdrivecom Bukan Rahasia, Bila Aku Thursday, March 07, 2013gejolak abgpertemuan dan perkenalanku - pdf free download

Permata Yang Hilang V2
Permata Yg Hilang V2Deskripsi lengkap - pdf free download

Permata Yang Hilang
Rahsia dan persediaan berumahtangga. Mengenali diri dan pasangan (suami/isteri). Psikologi. - pdf free download

Oleh: Kartika Wulan Suryani
1 KETERSEDIAAN KOLEKSI DI PERPUSTAKAAN BALAI BAHASA YOGYAKARTA BERDASARKAN ANALISIS SITIRAN PADA ARTIKEL - pdf free download

Permata Yang Hilang
Permata Yang Hilang (The Lost Jewel) Seni Nafkah Batin. Koleksi Ilmiah Islam, Tradisional - pdf free download

Permata Yang Hilang Bahagian 2
Boleh didapati dari www.twitter.com/ebuku dan www.rumahtangga.webs.com

Idea Transcript


Aku Ketagihan Dientot Oleh Om Ku Yang Bertubuh Kekar

Aku Ketagihan Dientot Oleh Om Ku Yang Bertubuh Kekar - Sebelum aku menceritakan kisahku ini, perkenalkan dulu namaku Desi. menurut teman-teman aku mempunyai wajah cantik, alis mata tipis dengan mata indah dan jernih yang dilindungi oleh bulu lentik, hidung tergolong mancung dan bagus, bibir tipis, mungil merah alami serasi dengan bentuk wajah. Kulit kuning langsat mulus dan terawat. Sejak dua bulan yang lalu, aku tinggal bersama keluarga Om Raka yang masih saudara sepupu Mama, karena orang tuaku pindah tugas ke luar negeri untuk jangka 2 tahun.

Usia aku saat ini 16 tahun, aku mempunyai tinggi 157 cm, dengan berat sekitar 40 kg, yah kadang sifatku memang kekanakan. Om Raka dan istrinya Tante Vina punya seorang anak laki-laki, Didi yang berusia 4 tahun. Mereka tidak punya pembantu, setiap hari anaknya dibawa dan di titipkan  pada kelompok bermain yang terletak di dekat tempat kerja Tante Vina. Tante Vina sendiri adalah seorang wanita yang manis dan tampak lesung pipitnya ketika tersenyum, badannya masih langsing walaupun sudah punya anak. Sedangkan Om Raka berumur kira-kira 35 tahun, berkulit coklat dan ganteng, sangat menyayangi keluarganya. Meraka adalah keluarga yang harmonis. Aku merasa betah tinggal di rumah mereka, karena telah di anggap sebagai keluarga sendiri. Om Raka mempunyai sebuah rumah mungil dengan tiga buah kamar, Aku menempati kamar  paling depan dan menghadap ke jalan, suasananya nikmat. Om Raka dan istrinya menempati ruang

tengah yang mempunyai kamar mandi sendiri, ada juga sebuah pintu yang menghubungkan ke kamar belakang di mana Didi biasa tidur. Ruang tamu dan ruang keluarganya cukup besar. Aku  biasa menggunakan kamar mandi yang terletak di d i belakang dekat dapur. Bila hari libur mereka  jalan-jalan dan rekreasi bersama, Aku selalu diajak, diajak, suasananya menjadi semakin menyenangkan. Suatu malam, tidak sengaja aku terbangun mendengar suara rintihan dan dengusan nafas yang memburu dari kamar sebelah, suara itu makin lama makin keras. Aku melihat ke arah lubang angin di atas meja belajar, lampu di kamar sebelah masih kelihatan terang. Hatiku diliputi rasa penasaran,  pelan-pelan aku bangun dan mematikan lampu kamar, dengan hati-hati mengendap naik di atas meja belajar, aku agak membungkuk untuk bisa melihat ke kamar sebelah melalui lubang yang cukup besar. Aku kaget melihat adegan yang terjadi di kamar sebelah, sampai hampir jatuh, tapi untung cepat sadar. Aku melihat Om Raka sedang bergumul dengan istrinya tanpa mengenakan selembar pakaian. Semula aku ingin mengurungkan niat untuk melihat perbuatan mereka, karena rasa ingin tahuku besar dan merasa penasaran, aku kembali mengintip mereka. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, tapi aku mulai tertegun saat Om Raka bertumpu dengan lututnya yang kebetulan menghadap ke arahku, aku semakin tegang dan terbelalak melihat titit Om Raka berdiri tegang dan besar di antara kedua pahanya, sebelumnya aku tidak pernah melihatnya, sangat berbeda dengan kepunyaan Didi yang masih kecil, tengkukku mulai merinding, badanku terasa panas, tapi mataku masih terus menatapnya. Om Raka mulai berada di atas badan Tante Vina dengan burung yang masih tegak berdiri. Sambil  bertumpu pada lutut dan sikunya bibir mereka saling melumat, mencium, dan kadang menjelajahi seluruh tubuh. ” Mas.., ahh.., terus ssts.., ahh.., Uhh”, Uhh”, Tante Vina merintih-rintih seperti kenikmatan. Aku semakin tegang dan mulai panas dingin melihatnya, “Mas.., ahh, terus ssts.., ahh.., uhh.., aah”. Aku yang melihat adegen itu, tanpa sadar mulai memegang dan mengelus elus tetekku sendiri, merasa nikmat, tapi tidak berani bersuara. vaginaku terasa membasah, aku baru sadar kalau  berahiku mulai bangkit. Tante Vina membimbing burung itu ke vaginanya, dan terlihat masuk, “Uhh.., aahh”, aahh”, tapi Om Raka malah memainkan ujung burungnya keluar masuk lubang vaginanya, “Ooohh Mas masukkan, aahh”, aahh”, terdengar rintih kenikmatan, “Aduuhh.., aahh”, aahh”, tangannya mencengkeram bahu Om Raka. Kemudian burungnya masuk lagi, “Ahh.., Ohh”, Ohh”, dan Tante Vina mulai menggelinjang dan mengimbangi gerakannya sambil mendekap pinggangnya, ”Mas.., ahh, terus Mas.., ahh.., Uhh”, Uhh”, burungnya terus menghunjam semakin dalam. Ditarik lagi,

“Aahh” dan “Aahh” dan masuk lagi, “Mas.., ahh, terus Mas.., ahh.., Uhh”. vaginaku Uhh”. vaginaku sendiri makin basah dan terasa geli. Sampai suatu badannya bergeter getar dan mengejang, dan “Aahh.., oohh.., aahh” Tante aahh” Tante Vina terkulai dengan senyumnya, di susul dengan lenguhan panjan g Om Raka. Kemudian mereka rebah telentang kecapaian. Melihat adegen itu kepalaku berdenyut, aku berusaha b erusaha turun pelan-pelan dari atas meja. Semalaman aku tidak bisa tidur membayangkan adegan yang baru kulihat. Aku bayangkan sedang bergumul dengan Om Raka yang mencumbu dan memberikan kenikmatan. Menjelang pagi aku baru bisa tidur karena kelelahan. Hari-hari berikutnya bila sedang melamun aku selalu membayangkan sosok Om Raka yang atletis itu mencumbuku, kadang aku membandingkan dengan teman-teman laki-lakiku, tapi tak ada satupun sosok temanku yang mampu menggantikan sosok Om Raka. Beberapa malam aku selalu menantikan suara-suara dari kamar sebelah, dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk melihat adegan yang sedang berlangsung, seperti ketagihan fantasiku melayang membayangkan diriku yang melakukan hal itu. Aku mulai sering mencuri pandang untuk menatap dan menelusuri tubuh Om Raka dari ujung kepala sampai ujung kaki, tapi tidak berani memperlihatkannya secara langsung, karena takut Tante Vina mengetahui perbuatanku. Aku sangat penasaran terhadap benda yang selalu menonjol di balik celana laki-laki itu, rasanya benar-benar ingin melihatnya dari dekat, bukan samar-samar seperti saat mengintip. Hubungan mereka masih terasa harmonis seperti b iasanya. Pagi itu hari Minggu tanggal 16 Juli 2000, Om Raka mengantarkan istri dan anaknya ke Bandara, mengejar penerbangan pertama ke Surabaya, untuk menjenguk ayah Tante Vina yang sedang sakit, sesuai rencana yang mereka bicarakan sejak beberapa hari yang lalu. Tante Vina tidak akan lama di Surabaya, esok harinya sudah kembali ke Jakarta. Aku bangun agak siang hari itu, malas bangun karena sendirian di rumah. Dengan mata yang masih mengantuk aku mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi, mumpung rumah sepi aku ingin melulur tubuhku. Setelah menggantungkan handuk, aku mulai membuka baju tidur melalui kepala, selintas terlihat tetekku menonjol kencang di atas dada yang tidak tertutup Bra. Sejenak aku melihat ke arah tonjolan itu. Aku merasa bangga mempunyai buah dada yang indah, putingnya masih kecil dan berwarna coklat kemerahan, selenak aku melamun, alangkah senangnya seandainya Om Raka mengelus kagum tetekku, kemudian kutarik celana dalam putih itu perlahan melalui pahaku yang mulus dan betis yang indah. Saat b erdiri terlihat bulu-bulu lembut kemerahan tumbuh menghiasi perut bagian bawah, bulu-bulu itu belum begitu lebat, karena masih ada bulu bulu kecil yang sedang tumbuh. Rambutku yang berpotongan pendek itu kututup dengan plastik penutup kepala, baru dikeramas kemarin sore, takut basah. Terasa segar saat air yang sejuk itu mengguyur badanku berkali-kali, aku kemudian mulai menggosok sekujur tubuh dengan perlahan sehingga yakin benar-benar

 bersih. Kukagumi sendiri lekuk-lekuk lekuk-lekuk tubuh yang indah itu, aku bangga dengan bentuk tubuh yang kumiliki, sambil terus melulur, kadang membayangkannya tangan Om Raka menelusuri tubuhku. Selesai lulur aku membilasnya dengan sabun mandi yang beraroma wangi, sampai tubuhku menjadi begitu halus dan wangi. Saat akan selesai aku mendengar bunyi telepon berdering, buru buru kubasuh badan hingga bersih. Telepon terus berdering, Aku buru-buru menarik handuk, sampai baju tidurku jatuh dan basah, setelah melilitkan handuk seadanya ke tubuhku yang masih  basah, aku keluar dari kamar mandi, tidak ada orang pikirku. Aku akan menuju telepon di ruang tamu, tapi baru ingat kalau hanya mengenakan handuk, malu bila saat mengangkat telepon ada orang yang melihat dari arah jalan, maka aku buru-buru masuk ke kamar Om Raka, pintu kamar kubuka dan terlihat kamar itu kosong, aku masuk, menutup dan mengunci pintu itu sendiri, lalu menuju ke arah telepon di samping ranjang. “Hallo!”, “Hallo!”, aku membungkuk sehingga tak terasa pantatku tersingkap, mencoba menjawab telepon itu, tapi keburu terputus. Kututup lagi telepon itu. Pantatku kembali k embali terlihat. ” Ahh!”, aku Ahh!”, aku tekejut saat membalikkan badan. Tak disangka Om Raka sudah pulang dan berdiri di belakangku hanya menggunakan celana dalam keluar dari kamar mandi yang ada dalam kamarnya, badanku sampai gemetar karena kagetnya, sekaligus terpesona melihat tubuh Om Raka yang bagus, dada bidang itu seolah-olah seperti magnit yang menarik diriku, membuatku hanya berdiri mematung, aku tak kuasa melihat tatapan Om Raka, aku menunduk, tapi aku semakin terkejut saat melihat benda di balik celana itu bergerak makin besar, entahlah aku menjadi terpesona dan diam saja saat Om Raka menghampiriku. Selain kaget, malu dan terpesona, ada terselip keinginan untuk mengetahui sampai di mana keberanian laki-laki ini. Tapi ahh gila pikirku, karena jantungku terasa berdenyut kencang, hingga tak sadar aku malah menutup mata. Tiba-tiba kurasakan tangan Raka mengelus pundak dengan lembut, sejenak anganku melayang terbayang adegen yang pernah kulihat. Dengusan udara hangat menerpa wajahku. Darah mudaku malah terasa meletup-letup, seakan aku tak kuasa menolak dan diam saja saat daguku diangkat, hembusan nafas hangatnya mulai menerpa wajahku, degup jantungku semakin kencang, membuatku tak berdaya saat bibirku merasakan hangatnya bibir Om Raka yang lembut dan tubuhku semakin menggigil saat hidungku mencium bau parfum yang dikenakan Om Raka. “Ohh” aku “Ohh” aku ingin meronta, tapi hanya desahanku saja yang keluar, perasaanku tak karuan

.

Aku hanya bisa terdiam saja, dia terus mengulum bibirku, membuat sedo...

Smile Life

When life gives you a hundred reasons to cry, show life that you have a thousand reasons to smile

Get in touch

© Copyright 2015 - 2019 ZDOC.TIPS - All rights reserved.